Memahami Film Bumbu Ajaib Dari Negeri Ajaib

Menurut Himawan Pratista (2017: 23) dalam bukunya Memahami Film, film secara umum dibagi atas dua unsur pembentuk, yakni unsur naratif dan unsur sinematik. Dua unsur ini saling berinteraksi dan berkesinambungan satu sama lain dalam membentuk sebuah film. Masing-masing unsur tersebut tidak akan bisa membentuk sebuah film jika hanya berdiri sendiri. Dalam film ini, coba kita teliti keberadaan dua unsur ini.

Unsur naratif adalah suatu rangkaian peristiwa yang berhubungan satu sama lain dan terikat oleh logika sebab-akibat (kausalitas) yang terjadi dalam suatu ruang dan waktu. Sebuah kejadian tidak bisa terjadi begitu saja tanpa ada alasan yang jelas. (Himawan Pratista, 2017: 63)

Cerita dalam film ini sangat tidak jelas karena karakter utama yang tidak jelas. Siapa sebenarnya Rama si karakter utama ini? Apakah mahasiswa karena di awal adegan membawa tas? Apakah seorang orang yang baru datang dari perantauan karena dari dialog yang memakai bahasa Indonesia di awal adegan? Mungkin karakter utama kita adalah seorang mahasiswa yang baru datang dari perantauan. Sehingga, ia terbiasa berbahasa Indonesia karena kebiasaan di perantauannya. Tapi, teman saya yang sudah lebih lima tahun merantau di Yogyakarta. Saat kembali ke kota kelahirannya tetap memakai bahasa lokalnya saat bergaul dengan temannya. Apalagi bicara dengan keluarganya. Oh, mungkin karakter utama kita bukan merantau di Yogyakarta. Tapi, ‘mungkin’ di Jakarta dan dia sudah sangat lama di kota perantauannya itu. Sehingga, saat pulang kampung Rama tetap memakai bahasa Indonesia saat bicara dengan bibinya. Ah sudahlah, kita bicarakan lagi nanti masalah karakter utama kita itu. Mari kita coba lihat dari ceritanya.

Menurut Misbach Yusa Biran (2006: 3), cerita dramatik bukan cerita naratif biasanya; artinya cerita yang sekedar menuturkan kejadian tanpa ada maksud menggugah emosi penonton. Dalam cerita dramatik tokoh yang dikisahkan haruslah objek menarik dan problemanya juga harus kuat dalam menggugah emosi yang menyaksikan. Dalam film, problema dikenal dengan premis, logline atau ide pokok.

Umumnya, rumus dari membuat sebuah premis adalah karakter + tujuan x konflik. Jadi, sebuah premis jika tanpa konfilk akan menjadi cerita yang hambar. Cerita dari film Bumbu Ajaib dari Negeri Ajaib ini sama sekali tidak menghadirkan sebuah konflik. Coba kita telisik premis dari film ini. Film ini menceritakan Rama, seorang mahasiswa yang baru datang dari perantauan (karakter) yang ingin memakan soto banjar buatan bibinya. (tujuan) Namun, ia … (konflik). Dari awal sampai akhir film, saya tidak mendapat konflik atau halangan yang menghalangi Rama untuk mendapatkan keinginannya. Jalan cerita berjalan sangat-sangat mulus bagi karakter utama. Tidak ada halangan yang membuat penonon ragu bahwa karakter utama akan mendapatkan keinginannya.

Konflik dalam sebuah cerita kedudukannya sangatlah penting agar pesan yang disampaikan dalam film bisa diterima oleh penonton melalui adegan-adegan yang dramatik. Dari pendapat Misbach yang ada di atas, cerita dramatik harus membuat objek yang menarik dan problema yang kuat agar bisa mengguggah emosi penonton. Konflik menjadi titik paling penting dalam membuat sebuah cerita karena cerita tanpa konflik seperti air putih, walaupun masih baik untuk diminum tapi rasanya hambar.

Unsur naratif dan unsur sinematik harus saling melengkapi untuk membuat cerita bisa disampaikan kepada penonton. Film ini jatuhnya hanya mencerita kembali sebuah dongeng. Bahkan, unsur sinematik dari film ini pun sama sekali tidak membantu dalam menyampaikan cerita dongeng itu kepada penonton. Coba kita lihat, dari awal sang Kakek berdongeng untuk Rama kecil, visual yang dihadirkan saat dongeng itu dimulai tidak ada yang mendukung penceritaan dongeng tersebut. Dari awal dongeng itu dimulai, visual yang disajikan dominan hanya memakai aerial shot atau beberapa shot memakai overhead shot. Overhead shot adalah shot yang diambil secara tegak lurus ke bawah. Dalam film bertema misteri, shot ini digunakan untuk menutupi identitas seseorang (Himawan Pratistia, 2017: 150)

Salah satu, penggunaan overhead shot dengan tepat bisa kita lihat dari film The Raid: Redemption (2011), garapan Gareth Evans. Salah satu, overhead shot yang sangat brilian adalah ketika Rama dan rekannya harus bersembunyi di balik dinding rahasia sementara seorang penjahat tengah mencarinya. (Gambar 1)

Salah satu, penggunaan overhead shot dalam film ini bisa dilihat di gambar 2. Kalau kita pahami, shot ini menjelaskan karakter utama kita sedang bersepeda dan melewati sebuah jembatan, berkeliling Banjarmasin menuju suatu tempat yang di akhir film akan kita ketahui tempat itu berada di pinggiran sungai Martapura dan Rama melarutkan kapal kertas yang berisi lada, kayu manis dan cengkeh. Lalu, apa motivasi dari shot ini? Untuk menjelaskan apa? Mengapa harus mengambil overhead shot? Hanya sang sutradara yang tahu.

Film ini ‘mungkin’ mencoba menganalogikan Rama sebagai raja dalam dongeng tersebut yang mencari ‘Negeri Ajaib’. Makanya banyak shot yang menjelaskan Rama seperti mencari suatu tempat, berkeliling dengan sepeda peninggalan Kakeknya. Jika memang seperti itu, mengapa tidak ada halangan bagi Rama dalam mencari ‘Negeri Ajaib’ itu. Sedangkan, di dalam dongeng yang diceritakan oleh Kakeknya, ada halangan bagi raja-raja tersebut untuk mencari ‘Negeri Ajaib’ karena peta yang diberikan oleh seorang pedagang dari timur dibagi menjadi tiga.

Mohon maaf, tulisan ini saya rasa tidak akan berhasil membuat kalian memahami film Bumbu Ajaib dari Negeri Ajaib. Namun, setidaknya kalian memahami bahwa konflik dalam suatu film itu sangat penting. Jika konflik tidak dihadirkan dalam suatu film, apa bedanya video jurnalistik dengan film?

Daftar Pustaka

Pratista, Himawan. (2017). Memahami Film Edisi 2. Montase Press: Yogyakarta.

Biran, Misbach Yusa. (2006). Teknik Menulis Skenario Film Cerita. Pustaka Jaya: Jakarta.