Bismillah…
Sebelum saya bercerita tentang pengalaman indah saya selama kurang lebih delapan hari berada di sebuah pulau yang bernama Pulau Burung. Izinkan saya berterima kasih dan memberikan salam serta sayang saya kepada orang-orang yang sudah memberikan kenangan indah dan pengalaman berharga di usia muda saya. Jika nanti saat saya tua dan saya membaca tulisan ini. Ingatlah orang-orang ini…
Kepada Kepala Desa Pulau Burung. Bapak Sayidina, terima kasih telah memberikan kesempatan saya belajar dengan bapak dan belajar tentang arti sebenarnya dari mengabdi kepada masyarakat.
Kepada Abah Rangga, terima kasih telah memberikan kenangan yang indah selama di Pulau Burung. Insha Allah selalu saya ingat dan akan saya ceritakan kepada anak atau cucu saya kelak.
Kepada Mama Rangga, terima kasih sudah selalu siap sedia menyediakan kebutuhan perut dan tenggorokan kami di kala mengerjakan proyek kami. Walaupun kadang kami tidak izin dulu jika ingin mengambil air minum atau snack di warung.
Kepada Om Feri, terima kasih sudah selalu siap sedia mengantar kami ke seberang pulau untuk membeli keperluan sehari-hari dan selalu siap sedia untuk membantu kami di kala mengerjakan proyek baik di siang hari maupun di malam hari. Tanpa mengenal kata lelah.
Dan kepada pak RT 1 maupun RT 2 dan semua masyarakat Pulau Burung serta semua pihak yang telah membantu kami dalam Antasari Mengabdi 2020 yang tidak dapat saya sebutkan satu-satu.
Baiklah…
Mari kita mulai perjalanan saya ke sebuah pulau yang masih berada di Kabupaten Tanah Bumbu ini.

Mari saya bawa kalian bagaimana caranya saya bisa berada di Pulau Burung selama kurang lebih delapan hari…
Itu berawal dari teman saya, Ananto pengurus dewan mahasiswa yang menawari saya untuk mengikuti kegiatan Antasari Mengabdi 2020 yaitu salah satu program dari dewan mahasiswa. Awalnya saya tidak terlalu bersemangat untuk ikut kegiatan itu. Tapi, karena ia juga berniat akan ikut kegiatan itu. Akhirnya, saya mengisi formulir pendaftarannya dan lolos karena rekomendasi dari Ananto.
Yang akhirnya membawa saya ke…
Minggu, 12 Januari 2020

Bersama dua puluh enam orang. Kami berangkat dengan bis dari DPRD Provinsi menuju Batulicin, Ibukota Kabupaten Tanah Bumbu. Kurang lebih enam jam perjalanan darat dari Banjarmasin. Disini saya masih belum tau, apa yang nanti akan saya kerjakan di tempat pengabdian itu. Walaupun, ada beberapa panitia yang sudah berada di tempat pengabdian sejak dua hari yang lalu untuk memetakan proyek yang akan dikerjakan di sana.

Sekitar pukul lima sore. Akhirnya, kami tiba di Pulau Burung. Disambut sangat ramah oleh Ketua RT dan Kepala Desa Pulau Burung yang pada saat itu kami masih senyum-senyum malu karena masih belum terlalu mengenal dengan masyarakat disana.
Setelah sholat isya, kami mengadakan rapat dan pertemuan dengan aparat desa dan beberapa masyarakat disana. Selain untuk merencanakan proyek yang akan kami kerjakan selama seminggu disini juga untuk saling mengenal masyarakat yang ada di sana.
Ada beberapa proyek yang akan kami kerjakan disini, yaitu: gerbang selamat datang, lorong dari bambu, beberapa bak sampah dari bambu, tulisan pulau burung dari bambu, dan beberapa proyek yang semuanya memakai bahan dasar bambu karena disini sangat banyak pohon bambu.
Senin, 13 Januari 2020

Pada hari pertama, aparat desa dan masyarakat ikut membantu menebang bambu untuk keperluan pembuatan proyek yang jumlahnya setelah dihitung-hitung kurang lebih 50 batang. Di hari pertama, ekspetasi saya terhadap kegiatan ini terpatahkan langsung. Awalnya, saya mengira masyarakat disini akan acuh tak acuh dengan proyek yang akan kami kerjakan. Dipinjamkan alat pertukangan pun sudah untung ucap saya dalam hati. Tapi, hari itu juga saya sangat terkesan dengan keramahan dari masyarakat yang dengan ringan tangan membantu kami mengumpulkan bambu. Ditambah dengan fasilitas seperti sepeda yang seharusnya berbayar. Namun, dengan murah hati dipinjamkan kepada kami dengan gratis untuk bolak-balik dari tempat proyek ke posko pengabdian kami yang cukup melelahkan jika ditempuh dengan berjalan kaki.
Selasa, 14 Januari 2020

(Kaos abu-abu: Rizal, Presiden Mahasiswa UIN Antasari)
Hari kedua, kerangka lorong sudah mulai terlihat. Saya khusus mengerjakan urusan simpul-menyimpul. Di hari kedua, dari pagi hingga sore saya berada di bawah terik matahari. Mengakibatkan kulit wajah saya terbakar luar biasa, sampai-sampai wajah saya sangat perih sekali.

(Kaos biru: Amak, Mandor kami.)
Layaknya Bandung Bandowoso yang dibantu oleh kaum jin dalam membangun candi dalam semalam untuk meminang Roro Jonggrang. Kami pun begitu juga dalam proyek ini. Bekerja dini hari dan tiba-tiba satu proyek terselesaikan. Inilah awal kami bertransformasi menjadi jin untuk membantu Sang Mandor. Hahaha
Apapun yang kami kerjakan waktu dini hari. Besok pagi selepas subuh, wujud dari yang kami kerjakan sudah bisa dilihat.
Rabu – Jum’at, 15- 17 Januari 2020
Hari ketiga, kami mendapat bantuan jin dari pulau seberang. Beberapa pengurus DEMA (Dewan Mahasiswa) yang tidak bisa datang dari hari pertama. Pada hari ketiga, datang membantu kami dan ikut andil dalam pengabdian ini. Salah satunya, teman saya. Ibul.

(Kaos merah: Ibul dan Kaos hitam: Zaki)
Bala bantuan jin dari pulau seberang ternyata mempercepat proyek kami. Malah ada proyek tambahan yang diinisiasi oleh Ibul. Yaitu, proyek plang tulisan Pulau Burung yang nantinya juga selesai dalam semalam.
Oh iya, hari ketiga lorong kami sudah mulai terlihat wujudnya.

Di siang hari kami tetap berstatus menjadi buruh, selalu siap sedia membantu mandor dalam mengerjakan proyek. Di malam hari kami bertransformasi menjadi ‘jin’ kekuatan kami bertambah dan tenaga kami bertambah. Mungkin karena semangat dari masyarakat pulau burung dalam membantu kami menyelesaikan proyek dari siang sampai malam. Dan karena melihat wajah bahagia dari masyarakat pulau burung saat melihat lorong antasari sudah berbentuk dan tampak indah sekali di malam hari dengan lampu kuning yang menawan. Wajah bahagia itu yang membuat kami selalu semangat menyelesaikan proyek di Pulau Burung. Wajah bahagia itu tak bisa dibeli di mana pun. Rasa puas dan rasa terharu, semua campur aduk saat melihat hasil karya kita bisa dinikmati oleh masyarakat. Itu yang membuat kami, para ‘jin’ selalu semangat di siang hari, apalagi di malam hari.

Di sela-sela kami bekerja di malam hari, ada saja kejadian lucu dan usil yang kami lakukan. Gambar di atas adalah bukti kejahilan kami. Makanan yang ada ditengah adalah buah hasil dari mengambil makanan yang ada di warung Mama Rangga. Walaupun, pada besok harinya tetap dibayar oleh ketua panitia pengabdian. Hahaha.
Pada malam hari itu juga kami langsung mengerjakan proyek plang tulisan pulau burung yang diusulkan oleh Ibul. Dan… pada besok paginya saat kawan-kawan lain bangun yang mereka lihat adalah ini…

Keesokan harinya, kami pun memasang plang itu dan pastinya dibantu oleh masyarakat pulau burung. Satu proyek telah terselesaikan hanya dalam waktu satu malam.

Sabtu-Minggu, 18-19 Januari 2020
Hari libur biasanya banyak pengunjung yang datang kesini. Di dua hari ini kami fokus mengerjakan proyek gerbang desa yang kami beri nama Gerbang Candradimuka. Dan seperti biasa, pada malam hari kami mulai bertransformasi menjadi ‘jin’. Besoknya juga seperti biasa, wujud dari proyek kami sudah bisa dilihat oleh kawan-kawan yang lain. Hahaha.

Banyak hal yang membuat saya terkesan saat datang dan mengabdi beberapa hari di Pulau Burung. Salah satunya adalah bantuan tenaga maupun uang selalu datang dari pihak aparat desa maupun masyarakat. Semua mendukung proyek kami, apapun yang kami kerjakan semuanya difasilitasi. Sangat terbuka dengan inovasi dari kami yang konsepnya sangat nyeleneh. Seperti membuat lorong yang memakai lampu di malam hari. Padahal di desa ini, listrik sangat dibatasi untuk tiap warganya karena disini mereka menggunakan PLTS untuk menyuplai listriknya. Buat apa juga membuang-buang listrik untuk penerangan lorong. Lebih baik digunakan untuk keperluan rumah tangga yang lebih penting. Tapi, tak ada terdengar komplain dari masyarakat ataupun aparat desa tentang ide nyeleneh kami. Semua kerja keras kami terbayarkan setelah melihat proyek yang kami kerjakan selesai satu persatu. Keringat dan rasa lelah terbayarkan sudah. Pengabdian ini murni semuanya untuk membangkitkan pariwisata dan perekonomian yang ada di Pulau Burung.

Senin, 20 Januari 2020

Hari ini, kami pulang ke Banjarmasin. Selesai sudah pengadian kami di Pulau Burung. Berat sekali rasanya meninggalkan desa ini. Masih banyak ide-ide gila yang belum tersalurkan. Disambut dengan hangat, kami dilepas pun dengan hangat dan rasa haru. Sebelum ke batulicin, kami di ajak berkeliling pulau yang ternyata sangat panjang. Wajar jika nama desa ini sebelum berganti nama menjadi desa Pulau Burung. Dulunya, dinamakan desa Pulau Panjang.
Saya belajar banyak setelah pulang dari pengabdian ini. Belajar tentang makna pengabdian. Kita tidak hidup sendirian di bumi yang luas ini. Kita di ciptakan Allah sepaket dengan masyarakat yang terdiri dari berbagai macam ras, suku, warna kulit ataupun agama. Hidup kita cuma sekali. Berbuat baiklah sebanyak-banyaknya. Kita tidak tau kapan harus berhenti untuk mengabdi. Terutama mengabdi kepada Sang Ilahi.
Salam untuk semua peserta Antasari Mengabdi 2020 dan masyarakat Pulau Burung. Tulisan ini saya akhiri disini.
