Review Film Penganten Bini: Mistis dari Tanah Kalimantan

Sebagai film yang berdurasi sekitar 9 menit. Film Penganten Bini terasa lebih panjang sehingga bisa membuat penonton awam sangat bosan, apalagi jika mereka tidak mengetahui latar belakang dan konteks dari cerita yang diangkat dalam film ini.

Penganten Bini adalah film pendek yang disutradarai dan ditulis oleh Anggi Ifansyah. Ia memang seringkali memproduksi beberapa film pendek yang mengangkat cerita dari kejadian nyata. Salah satunya, film Panglima Tanpa Kepala yang mengangkat cerita tentang pejuang kemerdekaan yang ada di Kalimantan Selatan yaitu, Demang Lehman.

Film yang diproduksi oleh rumah produksi Bias Film pada tahun 2018 ini sudah berkelana ke beberapa festival, salah satunya menjadi nominasi Mandau Emas di Aruh Film Kalimantan. Film ini bercerita tentang seorang mempelai wanita yang menolak perias manapun dan lebih memilih untuk dirias oleh perias langganannya sendiri. Alasan penolakan ini ternyata karena sang mempelai wanita adalah kuyang atau palasik. Dalam mitosnya, kuyang adalah nama hantu yang melegenda di pulau Kalimantan. Biasanya berwujud wanita. Ia bisa melepas kepalanya dengan bantuan minyak kuyang dan terbang bersama organ tubuhnya seperti jantung, hati, usus dan ginjal. Apabila ia terbang di malam hari. Biasanya ada cahaya merah yang bersinar di salah satu organnya. Kuyang merupakan manusia biasa di siang hari. Namun, di malam hari ia terbang mencari mangsanya. Ia suka memangsa darah bekas seorang ibu yang baru melahirkan atau ketuban dari bayi yang baru dilahirkan. Manusia yang menjadi kuyang ini biasanya mempunyai kekuatan untuk tetap awet muda dan sangat kaya. Sehingga, ia selalu disukai oleh banyak pria.

Film ini dibuka dengan lantunan ayat al-Quran yang sering dibaca sebelum sholat subuh tiba. Sebagai penanda waktu bahwa seorang mempelai wanita sudah mulai berdandan untuk acara perkawinannya sejak pagi buta sekali. Dari awal hingga menuju pertengahan/akhir film kita selalu disuguhkan dengan shot close up. Mulai dari adegan sang wanita masih memakai foundation, gerakan tangan perias mencelupkan eyeshadow sampai sang perias memakaikan lipstik ke bibir sang wanita. Semua adegan tersebut disajikan dengan shot close up. Hal ini yang mungkin membuat penonton akan bosan di awal-awal film karena maksud informasi dari shot tersebut tidak dipahami oleh penonton awam. Salah satu alasannya mungkin karena kurangnya informasi latar belakang cerita yang dimasukkan sutradara di film ini.

Saat saya wawancarai tentang film pendek ini, Anggi Ifansyah menceritakan bahwa film pendek ini berasal dari kisah sang perias pengantin wanita itu sendiri dan seringkali terjadi di tempat tinggalnya. Ia mengatakan bahwa alasan sang mempelai wanita tidak ingin dirias oleh perias yang lain karena ada bekas luka di lehernya yang menandakan bahwa sang mempelai wanita ini adalah kuyang atau palasik dan perias langganannya itu selalu menutupi bekas luka karena ia bisa melepas kepalanya dengan bantuan minyak kuyang. Menurut penuturan sang perias juga, saat sang mempelai wanita menikah dengan seorang pria, kelak pernikahan itu tidak akan berlangsung lama. Hal tersebut diyakini adalah kutukan atau bayaran dari kekuatan awet muda dari sang mempelai wanita. Ironisnya, hal itu sangat bertolak belakang dengan makna busana pengantin yang dipakai dalam film ini.

Sumber: Majalah Mahligai

Busana pengantin yang dipakai dalam film pendek ini disebut busana Pengantin Baamar Galung Pancar Matahari. Jika kita telisik dari sejarahnya. Busana Pengantin Baamar Galung Pancar Matahari pada awalnya hanya dipakai oleh keluarga kerajaan, terlihat dari warna yang dipakai dalam busana ini. Yaitu, kuning dan hijau. Dua warna ini pada zaman dahulu hanya boleh dipakai oleh keluarga kerajaan, karena dua warna ini bermakna kemegahan, kejayaan dan kesakralan. Salah satu, makna dari riasan dan aksesoris yang ada di busana Pengantin Baamar Galung Pancar Matahari. Yaitu, payet bentuk ulat lidi (ulat yang sangat berbisa) pada sarung atau tapih yang ada di kedua mempelai. Sebuah perlambangan sekaligus doa untuk keharmonian rumah tangga mereka dalam keadaan bagai manapun juga.

Busana Pengantin Bagajah Gamuling Bauluar Lulut
Busana Pengantin Baamar Galung Pancar Matahari

Busana Pengantin Baamar Galung Pancar Matahari ini juga sudah mengalami akulturasi, karena sejak Sultan Suriansyah memeluk agama Islam busana pengantin di kerajaan Banjar mulai menutup bagian aurat yang terbuka. Dibandingkan dengan busana Pengantin Bagajah Gamuling Baular Lulut, busana pengantin tertua yang sangat dipengaruhi oleh budaya Hindu. Busana Pengantin Baamar Galung Pancar Matahari ini lebih menutup bagian aurat dari kedua mempelai.

Latar belakang yang saya jelaskan diatas dirasa kurang dimasukkan dalam film ini. Hanya beberapa informasi saja yang dimasukkan. Misalnya, dialog antara mempelai wanita dengan periasnya bahwa ia sudah beberapa kali menikah selalu memakai perias yang sama.

Jika kita lihat dalam filmografinya sang sutradara. Ahmad Maulana tak pernah absen sebagai pengarah sinematografi dari naskah yang ditulis oleh Anggi Ifansyah. Mungkin, alasan sang sutradara lebih banyak memasukkan detail shot di babak pertama memang sengaja untuk membuat bosan penonton di awal filmnya karena jujur di babak kedua dan ketiga berhasil membuat bulu kuduk saya merinding saat menontonnya. Padahal, tidak ada efek suara musik yang berlebihan dan adegan jumpscare yang sering dipakai di film-film horor.

Secara umum, sinematografi dalam film Penganten Bini memang susah untuk ditangkap maksudnya oleh penonton yang belum tahu latar belakang dari film ini, mereka condong menganggap film ini hanya sebuah ‘video wedding’ karena dari babak awal dominan adegan merias pengantin yang direkam dengan gaya khas videografer pernikahan. Itu yang saya rasakan saat pertama kali menonton film ini.

Sedangkan dari struktur cerita, film pendek ini mencoba mendobrak bentuk struktur tiga babak yang sudah sering dipakai di dalam film. Biasanya dalam struktur tiga babak, harusnya babak kedua mempunyai porsi sekitar 55 persen dari durasi filmnya. Namun, di film ini. Malah babak pertama yang lebih banyak mendapatkan porsi dari babak kedua dan ketiga. Jika kita hitung durasi babak pertama adalah 7 menit 15 detik, sekitar 87 persen untuk porsi babak pertama. Babak pertama yang seharusnya menjelaskan latar belakang karakter, konflik karakter dan lingkungan sekitar karakter dirasa belum maksimal dituturkan dalam babak pertama ini. Padahal porsi yang dialokasikan untuk babak pertama sangat cukup untuk menjelaskan latar belakang karakter, konflik karakter dan lingkungan sekitar karakter. 

Babak kedua kita diperlihatkan runtutan adegan yang mulai membuat penonton curiga dengan karakter utama kita. Apakah ia benar mempelai wanita yang normal? Di akhir babak kedua, kita diperlihatkan sesuatu yang aneh. Terdapat  adegan sang mempelai wanita memasang kepala ke badannya sendiri. Dari sini terciptalah klimaks cerita dan mulai memasuki babak ketiga.

Di awal babak ketiga, kita disuguhkan oleh musik bernuansa horor dan musik Kambang Goyang karya H. Anang Ardiansyah yang selalu diulang-ulang dari awal film sampai pertengahan film sejak babak ketiga musik ini sudah berhenti. Resolusi dari babak ketiga bisa kita lihat dengan shot yang memfokuskan ke sebuah botol di depan radio. Walaupun di awal cerita informasi botol itu sudah diletakkan sutradara di awal cerita. Di babak ketiga, resolusi cerita yang kita dapatkan adalah bahwa sang mempelai wanita memang seorang kuyang atau palasik yang memakai minyak kuyang untuk melepaskan kepalanya. Menurut mitosnya, minyak kuyang memiliki beberapa warna, tergantung kekuatan yang ingin dimiliki. Misalnya, minyak warna hitam untuk kekebalan, minyak warna putih untuk pesugihan, minyak warna hijau untuk awet muda, minyak warna merah untuk memerintah jin atau berlari cepat, dan minyak warna kuning untuk memikat seseorang. Untuk informasi warna minyak kuyang yang ada di film ini tidak terlalu diperlihatkan oleh sutradara. Di akhir adegan, kita kembali melihat senyum ‘aneh’ dari karakter utama kita. Senyum ‘aneh’ itu seakan-akan mengisyaratkan apa yang kita asumsikan terhadap karakter utama kita adalah sesuatu yang benar adanya.

Shot senyum ‘aneh’ ini juga kita amati sudah seringkali dipakai dalam beberapa film populer, salah satunya ialah senyum Alex yang diperankan oleh Malcolm McDowell di film A Clock Orange karya Stanley Kubrick

Senyum ‘aneh’ ini sangat menguatkan pesan dalam film Penganten Bini, menambah rasa yakin penonton bahwa ada yang tidak beres dengan karakter utama kita. 

Pengantin Bini memang terlihat seperti film yang kurang menarik.  Sebuah film yang layaknya dijadikan ‘video wedding’ saja. Namun, dibalik semua yang biasa itu, terdapat pengetahuan dalam nilai tradisi pengantin Banjar serta kisah mistis yang sudah dan masih menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat di tanah Kalimantan.

Editor: Munir Shadikin